ALAT DAWAI : SEBUAH KONTEKS BUDAYA

15 September 2008 Leave a Comment

» Alat Dawai Dalam Sejarah Peradaban Manusia

Pentingnya alat dawai sebagai ekspresi kebudayaan manusia dapat dilihat berdasarkan penemuan artefak-artefak. Sejarah di berbagai tempat di dunia. Pada kejayaan peradaban Mesir di zaman Mesopotamia, alat dawai seperti harpa dan lira yang sedang dimainkan ditemukan dalam bentuk pahatan lukisan kuno di dinding bebatuan.

Di kebudayaan cina ditemukan gambar seorang dewa yang sedang memainkan alat petik lut pipa. Di kebudayaan India banyak ditemukan teks-teks sejarah kuno yang menceritakan dan menggambarkan bagaimana alat dawai digunakan sebagai sarana meditasi. Di masyarakat Jepang, alat dawai siter wagon juga yamato-goto merupakan alat musik penting yang digunakan sebagai pengiring tarian spiritual “Azuma Asobi” dalam agama Shinto. Pentingnya alat ini digambarkan pada sebuah patung kuno Haniwa yang sedang memainkan prototipe siter wagon (Malm 1959:27, 43). Demikian pula di Eropa, harpa digambarkan dengan menonjol lewat lukisan-lukisan klasik dan tua.

Bagaimana pentingnya alat musik dawai. Salah satu situs sejarah yang memeperlihatkan gambaran penggunaan alat-alat dawai pada masa lampau dijumpai pada relief yang terdapat di salah satu dinding candi Borobudur di Jawa Tengah. Relief yang menggambarkan orang yang sedang memainkan lut di antara beberapa pemain alat musik lainnya.

Berdasarkan sumber foto-foto sejarah, di Kalimantan konon pernah ditemukan sejenis harpa dengan nama engkratong. Engkratong pernah digunakan oleh masyarakant Murut dan Iban (Journal of Royal Asiatic Society no. 20,1904:hal. 55). Jenis harpa hampir tidak ditemukan lagi di Nusantara. Dengan bukti dokumentasi foto yang ada setidaknya kita tahu bahwa alat dawai harpa pernah ada di Nusantara.



» Penggunaan Alat Dawai di Masyarakat

Peran serta kegunaan alat musik dawai di dalam konteks kehidupan manusia memiliki fungsi yang sangat beragam, diantaranya adalah sarana dalam ritual atau peribadatan keagamaan. Sehtar dan tanbur adalah jenis alat musik dawai yang digunakan dalam komunitas ritual sufi Islam di Timur Tengah. Alat musik itu digunakan sebagai alat musik pengiring nyanyian, solo, maupun ensembel. Di Turki, tanbur biasanya juga dimainkan dalam bentuk ensembel musik sufi bersama alat lain, seperti santur (alat musik jenis siter pukul), al’ud (alat musik dawai jenis lut petik), kemanche (alat musik dawai jenis lut gesek), dan duf (gendang rangka satu sisi) atau gendang tamburin. Dalam konteks ini, musik tersebut digunakan untuk membangun rasa khusuk yang dalam (dzikir) untuk mengingat kebesaran sang Pencipta.
Alat petik vina di India Selatan dipakai sebagai sarana ritual meditasi lewat musik juga dilakukan dengan nyayian. Nyayian diiringi dengan alat-alat dawai seperti sarangi (jenis lut gesek), tanpura ( lut petik) dan pakhawaj ( jenis gendang dengan muka dua sisi).

Di kebudayaan musik Nusantara, alat musik dawai dipakai sebagai sarana ritual dalam kepercayaan masyarakat tertentu. Contoh alat-alat musik dawai Nusantara yang digunakan sebagai sarana ritual kepercayaan diantaranya adalah kulacapi di masyarakat di Karo dan hasapi di masyarakat Batak Toba, Sumatera Utara. Kulcapi dimainkan dalam upacara ritual Silengguri, yakni satu bentuk upacara “penyucian” yang dilakukan seorang pemusik kulcapi terhadap alat musik yang dimainkannya. Alat musik ini dimainkan dengan iringan alat musik lain disebut dengan keteng-keteng (alat dawai jenis idiokord terbuat dari bambu). Upacara ritual Silengguri dianggap sakral oleh pemusiknya dan umumnya hanya dihadiri oleh orang-orang tertentu saja. Orang-orang yang terlibat hanyalah pemusik yang menjadi pelaku ritual, para pemusik pengiring dan sebagian lainnya yang membantu mempersiapkan keperluan ritual.

Hasapi merupakan jenis alat musik dawai yang dipakai dalam sarana ritual peribadatan pada masyarakat Parmalian Batak Toba. Ensembel gondang hasapi terdiri dari alat-alat musik sarana etek (sejenis klarinet berukuran kecil), garantung (sejenis gambang kayu berbilah lima), dua buah hasapi (lut petik bersenar dua) hasapi ende dan hasapi doal, serta hesek (perkusi botol). Perayaan Sipaha Sada dilaksanakan di dalam rumah peribadatan Parmalian (Bale Pasogit). Namun demikian, kulcapi ataupun hasapi juga digunakan sebagai bagian dari ensembel yang dimainkan dalam konteks musik hiburan. Kulcapi Karo dan hasapi Toba dapat dimainkan solo sebagai hiburan bagi orang yang memainkannya. Ensembel musik untuk jenis musik hiburan di Batak Toba disebut dengan uning-uningan.

Penggunaan alat musik dawai dalam konteks ritual keagamaan juga terdapat pada masyarakat Sunda di Jawa Barat. Tarawangsa (alat gesek) serta kecapi (alat petik) dipakai dalam upacara bubur Sura di daerah Sumedang. Upacara tersebut diadakan setiap tanggal 10 sura oleh sekelompok masyarakat sebgaian bagian dari ritus.
Di dalam upacara yang umumnya berjalan selama semalam dan sehari penuh itu, dimainkan kacapi dan tarawangsa hampir tiada henti. Alat musik itu mengiringi tarian berkelompok secara bergantian. Contoh lain dari bentuk ensembel musik ritual lain di Nusantara adalah Cokek yang berasal dari Cirebon. Selain dimainkan di dalam perayaan sosial, cokek, yang terdiri dari beberapa alat dawai gesek, juga sering ditampilkan dalam upacara keagamaan masyarakat Cina di sana.

Di luar konteks ritual keagamaan, alat dawai juga umum dipergunakan dalam konteks hiburan. Di berbagai kebudayaan alat dawai untuk hiburan biasanya dipakai sebagai musik instrumental, musik mengiringi nyayian, atau mengiringi tarian.
Pemain kora adalah pemusik profesional yang biasanya bermain di tempat keramaian. Di Spanyol, gitar dimainkan untuk mengiringi tarian flamenco. Biasanya dilakukan di kedai-kedai minum.
Di Irlandia, biola diamainkan bersama alat musik lain seperti akordeon dan gendang badhran.
Di amerika serikat, ensembel yang sangat populer adalah bluegrass, bluegrass terdiri dari beberapa dawai, seperti gitar, biola, kontra bas, mandolin, dan banjo.
Di India Utara, alat dawai seperti sitar, sarad dan sarangi di mainkan dalam hiburan apresiasif.
Di Korea, alat dawai gesek ajaeng kadang di mainkan dalam ensembel kecil dengan iringan sebuah gendang.

Beberapa pertunjukan dawai kadang menggabungkan alat musik dawai dari berbagai daerah. Contohnya pertunjukan dawai Shamisen Jepang yang ensambelnya di sertakan biola dan sela barat dengan diiringi gendang dan nyayian.
Di Jawa terdapat ensambel musik keroncong. Alat utamanya adalah gitar, cuk (ukulele, mandolin, banjo), sela, kontrabas, kadang juga ditambah dengan suling.
Di Betawi ada orkes Gambang kromong, yaitu ensembel yang menggunakan alat dawai gesek dengan ukuran berbeda-beda ukuran kecil disebut kang ah yan dan teh yan, sedangkan yang besar disebut sukang.
Di Melayu gambus merupakan alat musik dawai untuk mengiringi tarian zapir, atau masyarakat Melayu kalimantan disebut tarian dana. Gambus umumnya dimainkan degan biola dan gendang marwas. Kadang di sertai nyayian.
Kacapi di masyarakat Sunda di mainkan untuk mengiringi nyayian yang disebut tembang cianjuran yang sering ditampilkan dalam perhelatan perkawinan.
Contoh alat dawai yang digunakan untuk mengiringi nyayian bercerita panjang adalah kora (Afrika), gitar blues(Amerika) dan kacapi bugis (Nusantara)
Teks dalam nyanyian bercerita umumnya mengenai cerita-cerita epik, legenda, maupun dari pengalaman sosial masyarakat.
Pertunjukan musik dawai di jalanan sering disebut dengan “pengamen” (street musician). Kadang alat dawai yang digunakan seperti biola (Eropa, Amerika), gitar (Nusantara), rebab (Arab), Kora (Afrika Barat).
Contoh pertunjukan musik pengamen lainnya adalah menggunakan siter kotar (siter betot) dan tamburin. Siter kotar umumnya terbuat dari karet ban.

» Akulturasi, Adaptasi dan Estetika Musik

Proses terbentuknya sebuah budaya baru yang diakibatkan oleh pengaruh budaya itu sendiri merupakan gejala yang umum dan sering terjadi di berbagai kebudayaan masyarakat di dunia. Fenomena bercampurnya dua atau lebih budaya yang berbeda disebut degan akulturasi.

Berbagai cara penerimaan atau penyesuaian dari proses akulturasi yang terjadi disebut dengan adaptasi. Permainan gitar di Nusantara memiliki keunikan cara, gaya, maupun teknik bermain tersendiri. Bentuk permainan gitar pada ensambel tarling di cirebon, pada dasarnya menirukan permainan alat musik gamelan yang ada di Cirebon. Di Jawa, misalnya, gitar dipakai dalam ensambel musik Kroncong, di permainan siteran. Pada prinsipnya permainan gitar mengisi pola melodi pokok, baik oleh sebuah nyayian tertentu ataupun musik instrumental. Gitar dalam tradisi Kroncong tidak dapat berdiri sendiri, gitar menjadi bagian dari alat musik pengiring.

Di Sumba Nusa Tenggara Barat, gitar juga dimainkan lewat cara dan ekspresi yang dipengaruhi oleh gaya permainan musik tradisi masyarakatnya. Cara memainkan gitar ada yang menggunakan teknik seperti layaknya bermain alat jungga (jenis lut tradisi di Sumba). Di Jawa Barat juga ditemukan cara bermain gitar dengan menirukan kacapi Sunda.

Di Madagaskar Afrika, gitar dimainkan dengan teknik seperti yang terdapat pada alat dawai valiha. Permainan gitar pada masyarakat Afrika-Amerika, yang dikenal dengan istilah gitar blues juga memiliki gaya dan pendekatan bermain tersendiri. Demikian pula permainan gitar yang terdapat di Turki, di Spanyol, dan tempat-tempat lainnya di dunia.

» Ornamen dan Hiasan alat Dawai

Ornamen ataupun hiasan tidak hanya sebagai sesuatu yang bersifat artistik, maupun kadang kala juga dapat dilihat sebagai ungkapan dari berbagai simbol budaya. Di masyarakat Batak di Sumatera Utara umum di jumpai bentuk kepala pada alat dawai jenis lut dengan di beri ornamen ukiran. Ukiran kepala pada alat musik biasanya berbentuk kepala ayam jago atau ukiran manusia yang tersusun secara bertingkat. Bentuk ukiran pada alat dawai Batak, seperti hasapi Toba, kulcapi, kora, atau hasapi papak dan simalungun.

Ayam jago merupakan simbolisasi debata (dewa) dalam mitologi kepercayaan Batak. Ukiran manusia yang tersusun bertingkat juga memiliki makna di dalam kebudayaan Batak, yakni menggambarkan pentingnya memiliki dan menjaga keturunan.
Di masyarakat Toraja di pulau Sulawesi, dapat menemukan bentuk ukiran pada kepala dari alat dawai petik katapi. Ukiran kepala kacapi berbentuk jalinan motif yang berlubang. Bentuk keseluruhan kecapi kelihatan seperti sebuah perahu.
Di pulau Kalimantan umum ditemukan alat dawai yang diberi ukiran ornamentasi. Keseluruhan badan alat musik mulai kepala, papan jari, kontak resonator hingga bagian bawah alat musik di beri lukisan ornamen. Motif ukiran yang terdapat pada alat dawai umumnya ditemukan pada produk budaya artistik lainnya seperti pada lukisan kain tenunan.

Related Posts

3 comments »

  • Asep Karwat!! said:  

    Ternyata, seueur nya kang kesenian Indonesia teh!
    Moal seepeun, mesi di palingan ku bangsa batur ge!!
    He...he...

    peace ah...

    wass...
    asr

  • »a2i3s™ said:  

    Hahahaha.... muhun juragan! :D

  • Ujung Bawang Simalem said:  

    saya sebagai org Karo bangga dengan kulcapi.

    nice info

    thx

  • Leave your response!

    Be nice, Keep it clean, Stay on topic, No spam. Thanks.

    Previous Page Arrow Left Arrow next page arrow right arrow Back to home home icon button